Kamis, 28 Februari 2013

THE STRUCTURE OF SCIENTIFIC OF REVOLUTIONS

Samsudin, S.Pd.


THE STRUCTURE OF SCIENTIFIC OF REVOLUTIONS

1.  Pengantar : Sebuah peran bagi sejarah.
            Sejarah , jika dipandang lebih sebagai khasanah daripada sebagai anekdot atau kronologi, dapat menghasilkan transformasi yang menentukan dalam citra sains yang merasuki kita sekarang. Citra itu telah dibuat sebelumnya , bahkan oleh para ilmuwan sendiri, terutama dari studi tentang pencapaian ilmiah yang tuntas seperti yang direkam dalam karya-karya klasik dan, yang lebih baru, dalam buku-buku teks yang dipelajari oleh setiap generasi ilmuwan yang baru untuk mempraktekkan kejujurannya.
            Namun, dari sejarah pun konsep yang baru itu tidak akan datang jika data-data historis masih terus dicari dan diteliti dengan cermat terutama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan oleh stereotip yang tidak historis dan diambil dari buku-buku teks sains. Jika sains itu kontelasi fakta, teori dan metode yang dihimpun dalam buku-buku tesk yang ada sekarang, maka para ilmuwan adalah orang-orang yang berhasil atau tidak, berusaha untuk menyumbangkan suatu unsur kedalam konstelasi tertentu itu. Perkembang sains menjadi suatu proses timbunan yang semakin membesar yang membentuk tekhnik dan pengetahuan sains.
            Tetapi dalam tahun-tahun belakangan ini beberapa sejarahwan sains berpendapat bahwa memenuhi fungsi yang diberikan kepada mereka oleh konsep perkembangan dengan akumulasi itu semakin bertambah sulit. Sebagai pencatat rangkain proses pertambahan mereka menemukan bahwa riset tambahan itu menyebabkan lebih sukar, bukan lebih mudah, untuk menjawab pertanyaan seperti: kapan oksigen ditemukan ? siapa yang pertama kali menemukan konsep tentang penghematan energi?
            Penemuan baru dalam teori juga bukan satu-satunya peristiwa ilmiah yang mempunyai dampak revolusioner terhadap para spesialisasi yang wilayahnya menjadi tempat terjadinya peristiwa itu. Komitmen –komitmen yang menguasai sains yang normal juga tidak hanya menetapkan jenis-jenis maujud (entity) apa yang dikandung oleh alam semesta, tetapi juga, dengan implikasi, maujud-maujud yang tidak dikandungnya.
2.                Jalan Menuju Sains yang normal.
Dalam essai ini , sains yang normal berarti riset yang dengan teguh berdasar satu atau lebih pencapaian ilmiah yang lalu, pencapaian yang oleh masyarakat ilmiah tertentu pada suatu ketika dinyatakan sebagai pemberi fundasi pada praktek selanjutnya. Sekarang pencapaian-pencapaian itu diceritakan, meskipun jarang dalam bentuk aslinya, oleh buku-buku teks sains tingkat dasar maupun tingkat lanjutan. Buku- buku tersebut populer pada awal abad 19, buku-buku klasik termasyur karya : Physica karya Aristoteles, Almagest karya Ptolemaeus, Principda dan Opticks karya Newton, Electricity karya Franklin, Chemistery karya Lavoisier, dan geology karya Lyell.  Mereka bisa berbuat demikian karena sama-sama memiliki karateristik yang esensial. Pencapaian mereka cukup baru, dan belum pernah ada sebelumnya.
Pencapaian yang turut memiliki kedua karateristik ini selanjutnya akan saya sebut “Paradigma”, istilah yang erat kaitannya dengan “ sains yang normal “. Dengan memilih istilah ini saya bermaksud mengemukakan bahwa beberapa contoh praktek ilmiah nyata yang diterima – contoh-contoh yang bersama-sama mencakup dalil, teori, penerapan dan intrumentasi – menyajikan model-model yang daripadanya lahir tradisi-tradisi padu tertentu dari riset ilmiah. Karena dalam essay ini konsep paradigma akan sering menggantikan berbagai gagasan yang dikenal, maka lebih banyak  yang perlu dikatakan tentang alasan penggunaannya.
Pemisahan bidang-bidang yang didalamnya telah terdapat paradigma yang mantap sejak zaman prasejarah, seperti matematika dan astronomi, dan juga bidang-bidang yang muncul dengan pembagian dan penggabungan ulang, seperti biokimia, keadaan diatas merupakan kekhasan historis.Namun sejarah juga mengemukakan beberapa alasan bagi kesulitan yang dijumpai di jalan itu. Dalam ketiadaan paradigma atau calon paradigma, semua fakta yang mungkin dapat merupakan bagian dari perkembangan sains tertentu cenderung tampak sama relevannya.
3.                  Sifat Sains yang normal
            Dalam penggunaannya yang telah mapan, paradigma adalah model atau pola yang diterima, dan aspek maknannya itu telah memungkinkan, karena tidak memiliki tidak memiliki kata yang lebih baik untuk mengambil paradigma, bagi keperluan  sendiri disini. Akan tetapi tidak lama lagi akan jelas bahwa pengertian model dan pola yang memungkinkan pengambilan paradigma itu tidak sama benar dengan pengertian yang biasa digunakan untuk mendefinisikan Paradigma. Dalam penerapan yang baku ini, paradigma berfungsi dengan memperbolehkan replikasi contoh-contoh yang masing-masing pada prinsipnya dapat menggantikannya. Di pihak lain, dalam sebuah sains paradigma jarang merupakan obyek dari replikasi, akan tetapi , seperti keputusan yudikatif yang diterima dalam hukum tak tertulis, ia adalah objek bagi pengutaraan dan rincian lebih lanjut dalam keadaan yang baru atau lebih keras.
            Untuk mengetahui bagaimana hal itu bisa terjadi, kita harus ingat betapa sangat terbatasnya suatu paradigma, baik dalam cakupannya maupun dalam ketepatannya, pada saat pertama kali muncul. Paradigma memperoleh statusnya karena lebih berhasil darpada saingannya dalam memecahkan beberapa masalah yang mulai diakui oleh kelompok pemraktek bahwa masalah-masalah itu rawan.
            Tiga fokus penyelidikan sains yang aktual yaitu :
-         Pertama adalah kelas fakta-fakta yang telah diperlihatkan oleh paradigma bahwa sangat menyingkapkan sifat tertentu.
-         Kedua yang biasa tetapi lebih kecil dari penetapan-penetapan fakta ditujukan kepada fakta-fakta yang, meskipun sering tanpa banyak kepentingan hakiki, dapat dibandingkan secara langsung dengan prakiraan-prakiraan teori paradigma.
-         Ketiga adalah yang ditujukan untuk mengartikulasikan suatu paradigma. Eksperimen ini, lebih dari yang lain-lain, dapat menyerupai eksplorasi, dan terutama sangat sering digunakan dalam periode-periode itu dan dalam sain-sains yang lebih banyak berurusan dengan aspek-aspek kualitatif daripada aspek-aspek kuantitatif dari regularitas alam. 
4.                  Sains Normal sebagai pemecah teka-teki
Pada abad ke 18 , misalnya hanya sedikit perhatian yang diberikan kepada eksperimen-eksperimen yang mengukur tarikan listrik dengan piranti seperti neraca. Karena memberikan hasil yang konsisten maupun yang sederhana, eksperimen-eksperimen itu tidak bisa digunakan untuk mengartikulasikan paradigma yang menurunkannya. Oleh sebab itu, eksperimen-eksperimen itu tetap merupakan kenyataan yang tidak berhubungan dan tidak dapat dihubungkan dengan kemajuan yang berlanjut dalam riset kelistrikan.
Mengantarkan pada masalah riset yang normal kepada kesimpulan adalah mencapai apa yang diantisipasi dengan suatu cara baru, dan hal ini memerlukan pemecahan segala jenis teka-teki instrumental, konseptual dan matematis yang rumit. Orang yang berhasil membuktikan bahwa ia adalah seorang pakar pemecah teka-teki, dan tantangan teka-teki itu merupakan bagian penting dari apa yang biasanya mendorongnya.
Meskipun demikian , individu yang terlibat di dalam masalah riset yang normal itu hampir tidak pernah mengerjakan yang manapun diantara hal-hal ini. Begitu terlibat, motivasinya agak berbeda jenisnya. Yang kemudian menantangnya ialah keyakinan bahwa, jika ia cukup terampil, ia akan terampil memecahkan teka-teki yang belum pernah dipecahkan atau dipecahkan lebih sempurna oleh siapapun.
            Adanya jaringan komitmen yang kuat ini, yang konseptual, teoritis dan instrumental, dan metodologis, merupakan sumber utama metafora yang menghubungkan sains yang normal kepada pemecahan teka-teki. Karena ia menyajikan kaidah-kaidah yang mengatakan kepada pemraktek spesialisasi yang telah matang seperti apa dunia dan sainsnya itu, pemraktek dengan yakin memusatkan perhatiannya kepada masalah-masalah esoterik yang didefinisikan baginya oleh pengetahuan yang ada dan oleh kaidah-kaidah ini.
5.             Keunggulan Paradigma
Penyelidikan historis yang cermat terhadap suatu spesialitas tertentu pada masa tertentu pada masa tertentu menyingkapkan seperangkat keterangan yang berulang-ulang dan kuasistandar tentang berbagai teori dalam penerapan konseptual, observational, dan instrumental. Inilah paradigma-paradigma masyarakat yang diungkapkan dalam buku-buku teks, ceramah-ceramah, dan praktek-praktek laboratoriumnya. Meskipun kadang-kadang terdapat ambiguitas, paradigma-pardigma masyarakat sains yang matang bisa ditentukan dengan relatif mudah. Dan memang kehadiran suatu paradigma tidak perlu menyiratkanpun bahwa ada seperangkat kaidah yang lengkap.
Paradigma – paradigma bisa lebih unggul, lebih mengikat, dan lebih lengkap darpada perangkat manapun dari kaidah-kaidah untuk riset, yang tidak diragukanpasti disarikan dari paradigma-paradigma itu.
6.                      Anomali dan munculnya penemuan Sains.
Penemuan diawali dengan kesadaran akan anomali, yakni dengan pengakuan bahwa alam, dengan suatu cara, telah melanggar pengharapan yang didorong oleh paradigma yang menguasai sains yang normal. Kemudian ia berlanjut dengan eksplorasi yang  sedikit banyak diperluas pada wilayah anomali. Dan ia hanya berakhir jika teori paradigma itu telah disesuaikan  sehingga yang menyimpang itu menjadi yang diharapkan. Pengasimilasian suatu fakta jenis baru menuntut lebih dari penyesuaian tambahan pada teori, dan sebelum penyesuaian itu selesai, sebelum ilmuwan itu tahu bagaimana melihat alam dengan cara yang berbeda, fakta yang baru itu sama sekali bukan fakta ilmiah.
7.                         Krisis dan munculnya teori sains
Perubahan yang melibatkan penemuan-penemuan ini semuannya destruktif dan sekaligus konstruktif. Namun penemuan atau bukan, satu-satunya sumber paradigma destruktif – kostruktif ini berubah. Kita akan mulai meninjau perubahan yang serupa, tetapi biasanya lebih luas, yang disebabkan oleh penciptaan teori-teori baru.
Dalam memahami munculnya teori-teori baru, tidak bisa tidak kita pun akan memperluas pandangan dan pemahaman kita tentang penemuan. Meskipun demikian kesalinglingkupan itu bukan identitas. Jika kesadaran akan anomali memainkan peran dalam munculnya jenis-jenis gejala yang baru, maka tidak akan mengejutkan bahwa kesadaran yang serupa, tetapi lebih mendalam, merupakan prasarat bagi perubahan teori yang akan diterima. Karena menuntut paradigma secara besar-besaran dan perubahan-perubahan besar dalam masalah-masalah dan tehnik-tehnik sains yang normal. Munculnya teori-teori itu pada umumnya didahului oleh periode ketidakpastian yang sangat tampak pada profesi. Para filsuf sains telah berulang-ulang mendemonstrasikan bahwa terhadap sekelompok data tertentu selalu dapat diberikan lebih dari satu konstruksi teoritis. Sejarah sains menunjukkan bahwa, terutama pada tahap-tahap awal perkembangan suatu paradigma baru , bahkan tidak begitu sulit menciptakan alternatif seperti itu.
8.                           Tanggapan terhadap krisis
Kita asumsikan bahwa krisis merupakan prakondisi yang diperlukan dan penting bagi munculnya teori-teori baru. Meskipun mereka mungkin kehilangan kepercayaan dan kemudian mempertimbangkan alternatif-alternatif, mereka tidak meninggalkan paradigma yang telah membawa mereka kedalam krisis. Artinya mereka tidak melakukan anomali-anomali sebagai kasus pengganti meskipun dalam perbendaharaan kata filsafat sains demikian adanya.
Akan tetapi, ini memang berarti-apa yang akhirnya akan menjadi masalah pokok – bahwa tindakan mempertimbangkan yang mengakibatkan para ilmuwan menolak teori yang semula diterima itu selalu didasarkan atas lebih daripada perbandingan teori itu dengan dunia. Putusan untuk menolak sebuah paradigma selalu sekaligus merupakan putusan untuk menerima yang lain, dan pertimbangan yang mengakibatkan putusan itu melibatkan perbandingan paradigma-paradigma dengan alam maupun satu sama lain.
Sains yang normal berupaya dan harus secara berkesinambungan berupaya membawa teori dan fakta kepada kesesuaian yang lebih dekat, dan kegiatan itu dapat dengan mudah dilihat sebagai penguji atau pencari pengukuhan dan falsifikasi. Ini berarti bahwa jika suatu anomali akan menimbulkan krisis, biasanya harus lebih daripada sekadar sebuah anomali. Selalu ada kesulitan dalam kecocokan paradigma alam; kebanyakan diantara cepat atau lambat diluruskan, seringkali dengan proses-proses yang mungkin tidak diramalkan.
Kadang-kadang sains yang normal akhirnya ternyata mampu menangani masalah yang membangkitkan krisis meskipun ada keputusan pada  mereka yang melihatnya sebagai akhir dari suatu paradigma yang ada. Transisi dari paradigma dalam krisis kepada paradigma baru yang daripadanya dapat muncul dari tradisi baru sains yang normal itu jauh dari proses kumulatif yang dicapai dengan artikulasi atau perluasan paradigma yang lama.antisipasi sebelumnya bisa membantu kita mengenal krisis sebagai pendahuluan yang tepat bagi munculnya teori-teori baru, terutama karena kita telah meneliti versi kecil-kecilan dari proses yang sama dalam membahas munculnya sebuah penemuan.
Paradigma baru sering muncul, setidak-tidaknya sebagai embrio, sebelum krisis berkembang jauh atau telah diakui dengan tegas. Bertambah banyaknya artikulasi yang bersaingan, kesediaan untuk mencoba apapun, pengungkapan ketidakpuasan yang nyata, semuannya merupakan gejala transisi dari riset yang normal kepada riset istimewa. Gagasan sains yang normal lebih bergantung eksistensi semua ini ketimbang pada revolusi-revolusi.
9.                  Sifat dan perlunya Revolusi Sains
Pada saat masyarakat terbagi kedalam dua kelompok atau partai yang bersaing, yang satu berusaha mempertahankan konstelasi kelembagaan yang lama dan yang lain berupaya mendirikan yang baru. Dan jika polarisasi itu terjadi, maka penyelesaian secara politis gagal. Karena mereka berselisih tentang matrik kelembagaan tempat mencapai dan menilai perubahan politik, karena tidak ada supraintitusional yang diakui oleh mereka untuk mengadili perselisihan revolusioner ini menggunakan bantuan tehnik-tehnik persuasi massa, seringkali dengan melibatkan kekuatan. Meskipun revolusi mempunyai peran yang vital dalam evolusi lembaga-lembaga politik, peran ini bergantung pada apakah revolusi itu merupakan peristiwa yang sebagian ekstrapolitis dan ekstraintitusional.
Seperti dalam revolusi politik, dalam pemilihan paradigmapun tidak ada standar yang lebih tinggi daripada persetujuan masyarakat yang bersangkutan. Untuk menyingkapkan bagaimana revolusi sains dipengaruhi, kita tidak hanya harus meneliti dampak sifat dan dampak logika, tetapi juga tehnik-tehnik argumentasi persuasif dan efektif didalam kelompok-kelompok yang sangat khusus yang membentuk masyarakat sains itu.
Sesuatu yang bahkan lebih fundamental daripada standar-standar dan nilai-nilai, bagaimanapun juga dipertaruhkan. Sampai disini saya berargumentasi hanya bahwa paradigma-paradigma adalah esensial bagi sains. Sekarang saya ingin memperagakan suatu pengertian bahwa paradigma-paradigma itu esensial bagi alam.
10.                  Revolusi sebagai perubahan atas dunia
Yang lebih penting lagi , selama revolusi para ilmuwan melihat hal-hal yang baru dan berbeda ketika mereka menggunakan instrumen-instrumen yang sangat dikenalnya untuk menengok tempat-tempat yang pernah dilihatnya. Dalam sains, jika perubahan persepsi menyertai perubahan paradigma, kita tidak mengharapkan para ilmuwan secara langsung menyokong perubahan ini, ketika memandang bulan, orang yang beralih kepada Copernicanisme tidak berkata ,” saya biasanya melihat planet, tetapi sekarng saya melihat satelit,” ungkapan itu akan menyiratkan pada sistem Ptolomeus pernah benar. Alih-alih orang yeng beralih ke Astronomi baru berkata, “ Dulu saya menganggap bulan sebagai planet, tetapi saya keliru.” Pernyataan itu memang berulang setelah terjadi revolusi sains. Jika hal itu biasanya menyamarkan perubahan pandangan ilmiah atau transformasi mental yang lain yang efeknya sama, kita tidak bisa mengharapkan kesaksian langsung tentang perubahan itu. Akan tetapi, kita harus mencari bukti tak langsung atau bukti berupa prilaku yang oelh ilmuwan dengan paradigma baru terlihat berbeda dari yang telah dilihatnya sebelum itu.
11.                Tak Tampaknya revolusi
Sampai disini saya telah mencoba memperagakan revolusi-revolusi dengan ilustrasi, dan contoh-contohnya dapat dilipat gandakan sampai tingkat yang memuakkan. Akan tetapi, jelas bahwa kebanyakan diantarannya, yang dengan sengaja dipilih karena sudah dikenal, biasanya dipandang bukan sebagai revolusi, melainkan tambahan kepada pengetahuan sains.
Namun, sebagai wahana pedagogis untuk melestarikan sains yang normal, buku teks harus ditulis ulang seluruhnya atau sebagian apabila bahasa, struktur masalah, atau standar sains yang normal berubah. Singkat kata, buku teks harus ditulis ulang setelah revolusi sains dan, setelah ditulis ulang, mau tak mau ia akan menyamarkan bukan hanya peran, melainkan juga adanya revolusi yang menghasilkannya. Kecuali jika masa hidupnya pribadi mengalami revolusi, kesadaran historis  ilmuwan yang berkarya maupun orang awam pembaca kepustakaan buku teks hanya memperluas akibat revolusi yang paling baru dalam bidangnya.
Lebih dari aspek manapun dari sains, bentu pedagogis itu lebih menekankan citra kita tentang sifat sains dan tentang peran  penemuan dan penciptaan dalam kemajuan.
12.                Pemecahan Revolusi
Buku-buku teks yang baru saja kita bahas hanya dihasilkan sebagai akibat revolusi sains. Mereka merupakan dasar tradisi baru sains yang normal. Tak dapat dihindarkan pada masa-masa revolusi nampaknya keyakinan tangguh dan bandel, dan kadang-kadang memang menjadi demikian. Akan tetapi, ia juga suatu kelebihan. Keyakinan yang sama itulah yang memungkinkan adanya sains yang normal atau sains yang memecah teka-teki. Dan hanya yang melalui sains yang normallah masyarakat profesional para ilmuwan berhasil, pertama dalam memanfaatkan lingkup potensial dan petisi paradigma yang lama, dan kemudian dalam mengisolasi kesukaran melalui studi yang bisa memunculkan paradigma baru.
Ini tidak menyatakan bahwa paradigma baru pada akhirnya meraih kemenangan melalui estetika mistik. Sebaliknya, sangat sedikit orang yang meninggalkan tradisi hanya karena alasan-alasan ini. Seringkali mereka yang berbalik itu disesatkan. Akan tetapi jika suatu paradigma bagaimanapun harus menang, ia harus memperoleh beberapa pendukung, yakni orang-orang yang akan mengembangkannya sampai titik ketika argumen-argumen yang keras kepala itu dapat dibuat dan dilipat gandakan.
13.                Kemajuan melalui revolusi
Mengapa kemajuan itu merupakan keuntungan yang dicadangkan hampir eksclusif bagi kegiatan yang kita sebut sains? Jawaban yang paling biasa atas pertanyaan itu adalah telah ditolak dalam tubuh esai ini. Kita harus menyimpulkannya dengan bertanya apakah dapat ditemukan pengganti.
Kita harus belajar menyadari apa yang biasanya kita anggap efek itu sebagai suatu penyebab. Jika kita dapat melakukannya, frase-frase seperti “ kemajuan sains” dan “Objektivitas sains” akan menjadi tampak seolah-olah sebagian dibesar-besarkan. Sebenarnya, satu aspek dari pleonasme itu baru saja dilukiskan.
Namun, jika dipandang dari dalam suatu masyarakattersendiri yang mana saja , apakah masyarakat ilmuwan atau non ilmuwan, hasil dari karya yang kreatif yang berhasil itu adalah kemajuan.
Paragrap terakhir menunjukkan arah , yang saya percaya pemecahan yang lebih baik bagi masalah kemajuan sains harus dicari. Barangkali mereka memberi petunjuk bahwa kemajuan sains itu tidak benar-benar seperti yang kita anggap. Akan tetapi kesemertaan mereka menunjukkan bahwa suatu jenis kemajuan akan memberi karakter pada kegiatan sain selama kegiatan itu bertahan. Dalam sain tidak perlu ada kemajuan jenis lain. Agar lebih presis, mungkin kita harus melepaskan pikiran, secara tegas dan tersirat, bahwa perubahab paradigma membawa ilmuwan dan mereka yang belajar daripadanya semakin mendekati kebenaran.
14.                Pascawacana – 1969. 
Sampai sekarang sudah hampir tujuh tahun sejak buku pertama kali diterbitkan. Sementara itu , baik tanggapan para kritikus maupun karya saya sendiri  yang selanjutnya telah meningkatkan pemahaman saya tentang sejumlah masalah yang ditimbulkan. Beberapa kesulitan pokok dari teks asli saya berkelompok disekitar konsep paradigma. Dan pembahasan saya dimulai dari kesulitan itu. Setidak-tidaknya secara fisiologis, arti kedua dari paradigma ini adalah yang lebih dalam dari yang dua, dan klaim yang saya buat atas namannya merupakan sumber utama berbagai kontroversi dan kesalahpahaman yang ditimbulkan buku ini, terutama untuk tuduhan yang saya buat dari sains menjadi kegiatan yang subyektif dan irasional.
Istilah paradigma sejak dini memasuki halaman-halaman yang terdahulu, dan cara masuknya itu hakikatnya sirkular. Paradigma ialah apa yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota suatu masyarakat sains, dan sebaliknya, masyarakat sains terdiri atas orang-orang yang memiliki paradigma bersama.
Pengetahuann sains, seperti bahasa , pada hakikatnya adalah milik bersama suatu kelompok, kalau tidak sama sekali tidak ada apa-apa. Untuk memahaminya kita perlu mengetahui karateristik-karateristik khusus dari kelompok yang menciptakan dan menggunakannya.


Sabtu, 16 Februari 2013

HASIL PENELITIAN PTK BAHASA INGGRIS



CHAPTER VI
 RESEARCH FINDINGS
This chapter consists of two parts, namely research description of data and interpretation of data . Each part  described as follows :
A.   Description of Data
1.  Finding before Implementing the Action
Ø The Result of Interview
Pre interview of this research was held on Monday, January 7th 2013 started at 09.00 A.M until 09.40 A.M. During interview, the writer asked some questions to the teacher. The questions are about the general condition in teaching learning process of English material especially in writing subject, and then the writer asked about the difficulties faced by the students in writing, and then about their participation, and the strategy that used by the teacher in writing descdriptive text. Furthemore, the writer asked about the clustering technique.
In general, teaching learning process was conducted as usual. In which there were pre activities like greeting, conveying the indicator of the subject after that explain the material and give example of the material. And then give the exrcise based on their text book. And last give them the homework.
The next question was about some difficulties faced by the students. The teacher gave some arguments, which were as it knows that writing was one of difficult skill among other skills to be learnt by the students. The students felt difficult in generating ideas into a paragraph. It may be caused of lack of vocabulary, grammar understanding, and choosing suitable word in a sentence.
The next question was about the strategy used by the teacher in writing subject, and asking the clustering technique. The teacher said that he never used clustering technique.
The conclusion of the interview in term of students’ difficulties in writing was the eight grade students of SMPN 19 Makassar had problems in writing in term of generating ideas, organizing ideas into paragraph, and grammatical Function. (see appendix 1b)

2.  Findings of first cycle
a. Planning
There were some activities conducting in this phase. First of all, writer and teacher designed a lesson plan and selested the approapriate material. The lesson plan was two lesson plans. The writer also prepared the model of clustering technique. The model of clustering technique was using shapes arrows. The writer also prepared the material and source of study, besides the writer also prepared the media of learning. The writer and teacher determined the criterion of success. The criterion of success was 80% of the students’ writing score achieved the Minimum Mastery Criterion-Kriteria Ketuntasan Minima (KKM).
                       
b. Acting
Action of the first cycle was done on January, 8th and 11th  2013 and 07.30. Before The writer explained the descriptive text and clustering technique, the first activity was writer greeted the students and asked their condition and their mentality to receive the material and checked how many students presented and absent. And then the writer explained the indicator and purpose of learning decriptive text. The second activity was the writer showed paris monument as media of learning descriptive and asked a glance about the picture by puposing to stimulate their brain. And then writer asked students about the descriptive text and clustering technique so that writer knew whether they had known desriptive text  and clustering technique or not. Then writer explained  about purpose, kinds and sturucure of descriptive text, then writer explained the clustering technique and how to use in describing about something. After that writer showed the media of clustering technique and paragraph based on the picture that had been made before implementing teaching and learning process. And then explained it. And asked students whether they understood or not. Then, the third activity was writer tried asking one of the students to stand up in front of the class as example to describe using clustering technique so that students could deeply understanding about how to describe something using clustering technique.The last activity was closing activity. Before writer closed the lesson before the ball rang, the writer asked students about their problems that they faced in learning English subject especially in learning descriptive text using clustering technique. And many students riplied that majority of them said that they do not know many vocalubary, using correct grammar and how to organize their idea, so they could not make a paragraph in readable text, but they was confortable with the clustering technique in describing somenthing. Before saying goodbye, he conveyed the next activity in the next meeting. In the second meeting, before the writer gave test, he explained a glance about the descriptive and clustering technique to remember their understanding. And then writer shew one of the picture was monas picture and the questions should be anwered by students. There were five questions, they were have you ever seen the picture above, what do you know about the pisture, where is it, please make clustering based on the picture and after that make a paragraph based on your clustering. And then students were asked to answer five questions that had been given by teacher. After that students were asked to edit their draft to be a good paragraph. The last activity was writer collected their first draft. The students’ draft was the data for the first cycle.

c.  Observing
The writer carried out the observation. The writer observed the teaching learning process by monitoring the students’ activites in this cycle. The writer saw that most of meeting were not running well. The students still looked confused, and still difficult to generate their ideas into a readable text of descriptive. It caused of most of students had problems in looking for vocaluraries and using correct grammar. (see appendix 3b)
        The result of first cycle showed that the mean score of the class derived 58 in which there were 55% students who passed the Minimum Mastery Criterion- Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 68 (sixtieth eighth).
*         The result of students’ writing
To know the result of students, writing, the writer needed to calculate the mean score firstly. The maen score derived from the following formula :
  _     ΣX
  X = ──
          N
  _    2540  
  X = ──
         44
 _            
 X = 58

          Then, the writer calculated the class percentage who passed the Minimum Mastery Criterion- Kriteria Ketuntasa Minimal (KKM)  using the following formula :
          F
P = ── X 100%
        N
       24
P = ──  X 100%
       44
P = 55%
The data showed that the mean score of firts cycle was 58. There were only 24 of students or 55% of the students who got the score above the Minimum Mastery Criterion-Kriteria Ketuntasan Minimal  (KKM) meanwhile the other 20 students were below that criterion. It implied that first criterion had not fulfilied (see appendix 3a)
Based on the result of the students’ writing in the first cycle, there was a little improvement of students’ mean score after students was taught through Clustering technique than before studnets was taught through Clustering Technique.

d. Reflecting
After analyzing the data by observing and evaluating the result of students’ writing showed that 55% of students who got the score above the Minimum Mastery Criterion – Criteria ketuntasan Minimal (KKM). From the data above, it can be concluded that the implementation of Clustering Technique has not given satisfactory result on the improvement of students’ writing ability. Therefore, it needs to be revised before the implementation of the the next cycle. So that it could achieve the criterion of seccess of this study.
Tabel 4.1
The students’ writing score of the first cycle
No
Students’ Number
First Cycle
1
S1
81.3
2
S2
75
3
S3
-
4
S4
81.3
5
S5
62.5
6
S6
81.3
7
S7
75
8
S8
81.3
9
S9
75
10
S10
75
11
S11
56.3
12
S12
75
13
S13
-
14
S14
62.5
15
S15
75
16
S16
62.5
17
S17
-
18
S18
81.3
19
S19
83.8
20
S20
83.8
21
S21
75
22
S22
81.3
23
S23
75
24
S24
68.8
25
S25
50
26
S26
50
27
S27
62.5
28
S28
62.5
29
S29
75
30
S30
56.3
31
S31
68.8
32
S32
62.5
33
S33
83.8
34
S34
81.3
35
S35
68.8
36
S36
-
37
S37
68.8
38
S38
-
39
S39
-
40
S40
-
41
S41
50
42
S42
81.3
43
S43
50
44
S44
-
MEAN
58
Note : The students who passed the Minimum Mastery Criterion – Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) (68)


3.  Finding of the second cycle
1.  Planning
After finding the facts that students’ writing ability was not satisfied, which was proven by their score on the first cycle, the writer helped by teacher made a lesson plan for the second cycle. Almost there were not significant differences with the previous lesson plan. The material still related to descriptive writing but it was focused on the describing a people, for example “ sule”.
The second cycle was carried out to solve the problem found in this the first cycle in which students were still difficult to produce the words and organizing their ideas into a good descriptive paragraph.


2.  Acting
In the implementation of this phase, the writer conducted the teachning learning process in the second cycle to get better result that was significant in improving writing ability by using clustering technique in order to improve students’ ability in writing descriptive text.
The action of the second cycle was done on Junuary 15th and 18th 2013. Before began to action, the writer greeted to students and asked students’ condition. Then the writer gave motivation in learning English lesson and conveyed the activities that would be done and explained the clustering techinique briefly to remember the students. After that, the writer showed the sule’s picture as example to enrich students’ knowledge about how to describe the people. And then the writer asked about the picture. After that the writer showed the media of clustering teschnique and paragrph based on the clustering. After that the writer asked their undertood about the materi that had been given. And then writer gave picture to know whether they had understood or not and to get good score. the students to make a draft using clustering technique which fasilitatied by dictionary based on the picture was given. After finished, the writer asked to collect it.
In the second meeting, the first activity, the students were asked to make the first draft based on their key words which were gathering in a cluster. The next the students were asked to edit their draft, and then collected it. The students’ draft was the data for the second cycle.

3.  Observing
The writer carried out the observing. He obeserved the teaching learning process by monitoring the students’ activities during this cycle. The observing was done get the data from the students’ progress during their activities when teaching learnning process occurred.
Students’ respond in first cycle was not good. Most of meeting were not running well. Some students still looked confused and felt difficult especially in gathering and organizing their idea into a good paragraph (see appendix 3b). however, in the second cycle, the writer found that the students’ progress in writing was better than in the first cycle (see appendix 4b).
The mean score of the students was 74 in which there were 37 of the students passed the Minimum Mastery Criterion – Kriteia Ketuntasan Minimal (KKM) 68 (sixty eight). The following were the detail description about the result of students’ writing score in second cycle. (see appendix 4a)

*      The result of students’ writing
The calculation of the mean of students’ score in writing in the second cycle gained 74 it was derived from the following formula :
_     ΣX
X = ──
  N
_    3262    
X =
   44
_     
X = 74

Then, the calculation of class percentage about the students who passed the Minimum Mastery Criterion – Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) :
                                         F
P = ── X 100%
                               N
                                       37
P = ──  X 100%
                             44
      P = 84 %

Tabel 4.2
The students’ writing score of the second cycle
No
Students’ Number
Second Cycle
1
S1
93.8
2
S2
93.8
3
S3
81.3
4
S4
87.5
5
S5
75
6
S6
100
7
S7
81.3
8
S8
100
9
S9
75
10
S10
81.3
11
S11
62.5
12
S12
93.8
13
S13
-
14
S14
75
15
S15
81.3
16
S16
81.3
17
S17
93.8
18
S18
87.5
19
S19
100
20
S20
98.3
21
S21
87.5
22
S22
93.8
23
S23
81.3
24
S24
87.5
25
S25
75
26
S26
75
27
S27
93.8
28
S28
75
29
S29
87.5
30
S30
81.3
31
S31
75
32
S32
-
33
S33
93.8
34
S34
93.8
35
S35
68.8
36
S36
93.8
37
S37
93.8
38
S38
-
39
S39
-
40
S40
-
41
S41
93.8
42
S42
87.5
43
S43
-
44
S44
81.3
MEAN
74
Note : The students who passed the Minimum Mastery Criterion – Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) (68)

                Finally, the calculation of the improvement percentage was gained from the following formula :
     y - y1
P = ─── X 100%
                              y
      74 – 58
P =                     X 100%
          58
P = 28%
        Based on the result of the students’ writing product, there was better improvement of students’ mean score from the students’ writing in the first cycle to the students’ writing in the second cycle. The mean score for the first cycle was 58 and the mean score of the second cycle was 74 it means that there was 16 points or 28% of mean score improvement. The students who passed the Minimum Mastery Criterion – Kriteria Ketuntase minimal (KKM) were 37 students or 84% if it calculated into class percentage. It indicated that the first criterion of success has been achieved. The following was the table students’ writing score.

Tabel 4.3
The students’ writing score of the first cycle and the second cycle
No
Students’ Number
First Cycle
Second Cycle
1
S1
81.3
93.8
2
S2
75
93.8
3
S3
-
81.3
4
S4
81.5
87.5
5
S5
62.5
75
6
S6
81.3
100
7
S7
75
81.3
8
S8
81.3
100
9
S9
75
81.3
10
S10
75
81.3
11
S11
56.3
62.5
12
S12
75
93.8
13
S13
-
-
14
S14
62.5
75
15
S15
75
81.3
16
S16
62.5
81.3
17
S17
-
93.8
18
S18
81.3
87.5
19
S19
83.5
100
20
S20
83.5
93.8
21
S21
75
87.5
22
S22
81.3
93.8
23
S23
75
81.3
24
S24
81.3
87.5
25
S25
50
75
26
S26
62.5
75
27
S27
62.5
93.8
28
S28
62.5
75
29
S29
75
87.5
30
S30
75
81.5
31
S31
68.8
75
32
S32
62.5
-
33
S33
83.5
93.8
34
S34
81.3
93.8
35
S35
83.5
75
36
S36
-
93.8
37
S37
68.8
93.8
38
S38
-
-
39
S39
-
-
40
S40
-
-
41
S41
50
93.8
42
S42
81.3
87.5
43
S43
50
-
44
S44
-
81.3
MEAN
58
74

        It could be seen from the table above that the numbers of students who passed the Minimum Mastery Criterion – Kriterial Ketuntasan Minimal (KKM) also increases from the first cycle to the second cycle. In the first cycle there were only 24 students or 55% of students who got the score above the Minimum mastery Criterion – Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), and in the second cycle the students who passed the Minimum Mastery Criterion – Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) were 37 students or 84%. It proved that the target of the first criterion of success in which minimum 80 of the students passed the Minimum Mastery Criterion – Kriteia Ketubtasan Minimal (KKM) could be achieved (see appendix 4a)

4.  Reflecting
The result of the second cycle showed that 84% of the students got the socre above the Minimum Mastery Criterion – Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). So it had met the first ctriterion of success that 80% of the students must get the score above the Minimum Mastery Criterion – Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). So the writer and the collabotor decided to stop the action.

2.  Finding after Implementing the Action
After the teaching action had been implemented, the writer carried out the interview to the English teacher who acted as observer. It was to know his respond about implementation the action.
*   The result of Post Interview
This interview was held on january, 21th 2013 after accamplishing the second cycle. It was started at 10.30 A.M until 11.00 A.M. the writer asked some questions to the teacher. It was begun with the general condition of the students during implementing the action. As far as he looked, clustering technique was good enough to be implemented in teaching descriptive writing. They looked anthusiast and spirit during teaching learning process. Although still there were a few students were not paid attention to the teacher. They felt easier to write their their draft because of this teschnique. In general, the students’ participation was good because the activity in the classroom involved students.
Other question was about the difficulties faced by the students and its solustion in implementing clustering technique during implementing the action. It was observer that the most of the students felt difficult in the vocabulary grammatical process of writing. Besides they felt difficult in gathering and organizing their ideas in the good paragraph. So, the teacher should give more motivation to the students to study hard. The teacher should gave them a perspective that writing is a skill, its need practice as much as possible.
The last category was about the opini of clustering technique, he said that clustering technique was a good technique in teaching descriptive writing. It can make students felt easer in writing descriptive paragraph. So, it can be an altarnative technique in teaching writing. Furthemore, it was able to improve students’ writing ability. It can be seen in the final score that there was significant differences before the technique implemented in teachning descriptive writing.
From the explanation above, it could be conclude from the post interview that the teacher a positive response toward the implementation of clustering technique in teaching descriptive writing. In addition, clustering technique gave a good impact for improvement of the students’ ability in writing descriptive text. (see appendix 2b)

B.   Interpretation of Data
1.  Data of Observation
Based on onservation conducted by the writer, it was known that English teacher taught writing by analyzing the text, then he asked the students to translate and comprehend the text, after that he asked the students to make a draft as same as possible with the example text that had been taught. Of course, this technique made students felt bored and hard to make a draft. They felt difficult in produced the words, they did nit know how to generate ideas or even less organize their ideas into a good paragraph.
They need a simple technique to help them in writing something that make them motivated and felt simple in writing. However, after the students are taught using clustering technique they felt easier to write. They assumed that clustering technique can help them in making descriptive writing (see appendix 2b)

2.   Data of interviews
The data of interviews with English teacher and the students of eighth grade of SMPN 19 Makassar showed that the teacher and the students have some problems and learning English writing. First of all, the teacher has a problems to get students’ attention and participation, they felt writing was a difficult skill to be learnt. Consequently, it needed the innovation in teaching writing. The writer suggested implementing clustering technique in teaching writing.
After conducting the action, the English teacher gave positive responses toward the action. He felt satisfied with the imptovement made by the students focus on writing ability and their participation. (see appendix 2b)


3.  Dat of Students’ achievement in the Test
Based on the result of students’ writing score, it was found that the students’ writing in a descriptive paragraph was gradually improving. It was showed that there was a good impact of clustering technique toward the increaseing of students’ ability in writing descriptive text.
The students mean in the first cycle was 58. Meahwhile, the mean score in the second cycle was 74. it means that there was 16 points or 28%  of  mean improvement from students’ score in the first cycle to the sedond cycle.
All of the result of instrument after accomplishing the classroom action research revealed good results from implementing clustering technique in descriptive writing. The students admitted that they were interested with this technique. They felt easier in writing descriptive text. The students looked motivated and confident in writing. Considering the explanation above, the writer concluded that the research was successful and the technique of clustering technique can improve the students’ writing ability in writing descriptive text. The improvement of students’ ability in writing descriptive text. The improvement of students’ ability in writing descriptive text can be supported by the improvement of students’ score. The result of the first cycle and the second cycle showed a significant inprovement. The use of clustering technique in teaching writing can overcoma the research problem that is how to improve students’ ability un writing descriptive text. The students also have a positive response to the implementation of teaching descriptive writing using clustering technique. The students’ writing ability can be improved through clustering technique.












CHAPTER V
CONCLUSION AND SUGGESTION
A. Conclusion
The result of this research showed that the use of clustering technique has successfully improved the eighth grade students of SMPN 19 Makassar in academic year 2012/2013. The conclusion could be drawn from the result of research as follows :
1.  The improvement of students’ ability in writing descriptive text could be seen from the increasing of students’ mean writing score from 58 in the first cycle, and 74 in the second cycle.
2.  The observation and interviews conducted by the writer during the action showed that the students were motivated and interested to participate and actively in writing activety.
3.  The teacher’s respond about the implemetation of clustering technique was positive and it would be an alternative technique in teaching writing. Therefore, clustering technique could improve the students’ ability in wiriting of descriptive text.


B. Suggestion
Having concluded the result of this research, the writer would like to arrange  some suggestion that hopefully will be useful, especially as follows :
1.  To the teacher
It is suggeted that the English teacher implement the clustering technique as an alternative technique in writing subject.
2.  To the students
It is suggested that the students can use this technique when need to write descriptive text and can use in sosial imviroment
3.  To the other researchers
For the researchers, the result of this study can be used as an addition reference with different discussion.